kita.

Image

source of pict: kalerhati.blogspot.com

kita tak lain hanyalah sekumpulan jiwa yang menyatu lewat perasaan saling memahami, saling mengerti, saling mengisi.

kita tak lebih hanyalah suara yang saling beradu, menceritakan segala apa yang layak didamba dan kadang menjadi sesuatu yang gundah gulana.

kita, adalah karya yang menorehkan segaris kisah , yang berasal dari kepingan mozaik cerita, entah duka, cita, cinta.

kita, tak kurang dari susunan nada yang saling bersuara membentuk lantunan lagu sendu, juga gembira.

kita, bagai serangkaian makna atas elemen-elemen yang sifatnya kumulatif, lepas satu unsur saja maka ubahlah menjadi berbeda.

kita. menebarkan harap agar semua yang telah tersusun akan tetap indah untuk selamanya.

tapi kita, tak ada larangan, juga tak mungkin bisa melawan takdir bahwa semua ini boleh saja berakhir.

ya, tetapi kita; akankah begitu adanya? entahlah.

just start here again rightnow….

Yeah, this is the first time i surf my own wordpress page after a month i left my hometown to a small-very meaningful village. That’s very homely i think….

image soure: networkedblogs.com

Meskipun bagiku menulis tentang sesuatu kadang sangat sulit untuk memulainya, tapi (kadang) ketika kita mulai enjoy dengan kegiatan itu -lebih lebih pas kita mau cerita tentang sesuatu yg kita kuasai atau bermakna banget di perjalanan hidup kita- pasti nulis itu tiba tiba rasanya mengalir gitu aja. Yups, several people said that: “menulis itu dimulai dari hati”. Maknanya, bahwa ketika kita memulai menulis itu murni karena ada hasrat dari hati kita, niat kita sendiri. Selami apa yg kita hadapi, resapi apa yg kita rasakan, renungi kejadian per kejadian yang terekam memori….hanya dengan begitu kita akan lebih mudah memulai dan meneruskan apa yg akan kita tulis. Bukan cuma itu, yang paling penting dilakukan sebelum menulis adalah banyak-banyak membaca… (baca yang bermanfaat tentunya -akan lebih baik-). Membaca adalah wajib. Reading is a must to do before writing. Dan aku pikir sejauh ini hal itu absolutely benar… Remember! kalo dalam agama hal ini masuk di bagian “ilmu itu sebelum amal”. Dju think the same with me…??
Well then, bisa dibayangkan kalo kita akan mengerjakan tugas atau laporan praktikum kuliah, dsb bahkan ketika kita mengerjakan soal-soal ujian pun pastimya kita menuliskan dari apa yg kita tahu dari membaca sesuatu (dan juga dari apa yg kita dengar). Jadi inilah buktinya….

Meminjam kata-kata dari Pramoedya Ananta Toer bahwa “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian..”

Dan semoga sejak saat ini pikiranku yg kacau memikirkan bagaimana untuk memulai menulis tidak terlalu penuh sesak membuncah dan cuma jadi penghambat buat menulis, karena kata ibuku

menulis apa pun (yg baik) itu walaupun mungkin kamu pikir ngga bermanfaat buatmu tapi ternyata itu bermanfaat buat orang lain. So, just write down what you have then you have done what the name of sharing🙂

Jadi orang berilmu itu pastinya enak, apalagi kalo secara ngga langsung apa yang kita punya itu bermanfaat buat sesama. Maka, mari membaca… mari menulis…. mari berbagi…. mari cerdaskan bangsa ini… !!!

betapa pentingnya memanfaatkan waktu dan berdoa padaNya

Ada dua kenikmatan yang membuat kebanyakan manusia tertipu yaitu nikmat sehat dan waktu lapang.”

(HR Bukhari)

Sekali lagi, atau mungkin selalu hampir setiap waktu, bahwa aku harus mengakuinya. Mengakui bahwa pada akhirnya aku belum mampu mengenal diriku sendiri dan mengatur waktu dengan sebaik-baiknya. Akhir-akhir ini, dimana yang lain pada sibuk dengan urusannya masing-masing, tapi justru aku kehilangan makna dari tiap detak gerak laju sang waktu. Alhasil, lagi-lagi semua hampir harus diselesaikan dengan mendadak.
Waktu yang aku punya bukan diluangkan untuk belajar terkait kuliah, diskusi, nguprek laptop, ikutan kajian, seminar, bersih-bersih rumah, atau hal-hal yang bermanfaat lainnya, melainkan sekitar 6-8 jam aku habisin di alam mimpiii….

astaghfirullahal adziim, sadar saya salah… bukankah seorang yang beruntung adalah ia yang menjadi lebih baik dari waktu ke waktu?? bukankah orang yang bijak adalah yang dapat mempergunakan waktunya untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat??

Belum lagi kedua kaki seorang hamba bergerak pada hari kiamat, ditanyalah tentang usianya, dihabiskan untuk apa; tentang ilmunya, digunakan untuk mengerjakan apa; tentang hartanya, diperoleh dari mana dan dibelanjakan untuk apa; tentang badannya, digerakkan untuk apa.

(HR Tirmidzi)

Sedangkan aku dengan tidurku tentu tak akan mampu mengubah apa pun menjadi lebih baik. Padahal waktu kita di dunia ini tak ada yang tahu, sedang berjalannya waktu tak terasa merenggut kesadaran kita untuk memanfaatkannya sebaik mungkin. Hmmm, kalau uda gini emang uda dalam batas yang cukup parah. Well then, yang segera dilakukan adalah perubahan. Apa yang harus dirubah? Ya, tentunya kebiasaan buruk atas menyia-nyiakan nikmat Allah berupa waktu itu.

dan yang perlu diingat adalah bahwa Allah itu dalam perhitunganNya akan tetes-tetes peluh hambaNya tak akan pernah luput sedikitpun.

Continue reading betapa pentingnya memanfaatkan waktu dan berdoa padaNya

pembicaraan ibu dan anak kelas 3 SD

Suatu malam ibu cerita tentang seseorang yang ia temui ketika di kantor. Seseorang itu bukan teman kerjanya, bukan atasannya, bukan mahasiswa, bukan dosen, bukan pejabat rektorat universitas, bukan juga pejabat negara. Namun, kata-kata dan pembawaannya yang begitu polos lah yang meluluhkan hati hingga ibu begitu kagum padanya…. Ya, seseorang itu adalah anak kelas 3 SD (berusia sekitar 9 atau 10 tahun) yang diajak ayahnya setelah pulang sekolah karena ayahnya sedang ada keperluan dengan rekan kerjanya di kantor tempat ibuku kerja.
Lalu, apa yang membuat ibu kagum padanya? hmmm, bukan saja ibu yang kagum, melainkan teman-teman kerjanya juga. Aku tak terlalu ingat apa yang dikatakan ibu padaku, namun pastinya hal yang membuat kagum adalah cara berpikirnya yang beitu dewasa. Cara bicaranya tak seperti anak-anak seusianya. Ketika ditanya ‘adek besok pengen lanjut sekolah dimana?’ Tanpa ragu dia memaparkan rencananya untuk melanjutkan ke Pondok Pesantren milik Abdurrahman Wahid, kemudian akan melanjutkan kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik jurusan Hubungan Internasional. Lagi, ibuku bertanya ‘memang cita-cita adek apa?’ Ia pun menjawab dengan mantap bahwa ia tujuannya adalah menjadi seorang diplomat, diplomat di Arab Saudi katanya. Lalu ibuku bertanya lagi ‘mengapa tak menjadi seorang presiden?’ Anak itu langsung melayangkan sebuah jawaban ‘iya sih, sebenernya juga pengen jadi presiden, cuma kalo jadi presiden di sini nanti didemo -tampaknya ia kurang menyukai dengan cara-cara demokrasi semacam itu yg ditempuh masyarakat kita- hmmmmmm, sedikit sama sepertiku.

Continue reading pembicaraan ibu dan anak kelas 3 SD

“Kono omoi wa mune ni shimatte okou….”

bagi yang suka nonton filmnya naruto pasti tau barisan kalimat di bawah ini….
yupp..ini the sixth ending song nya naruto kalo ga salah..aga mellow si karena seingetku ending song itu dipake saat si sasuke jatuh ke tangan orochimaru gara2 kepengaruh ambisinya sendiri untuk ngalahin kakaknya (lupa sapa namanya). Jadi, otomatis timnya naruto karena kehilangan 1 kawan (sasuke)….ahh, pokoknya ceritanya waktu itu lumayan so sad deh.
ini nih liriknya…….

judulnya (dlm bahasa jepang): nakushita kotoba

Kono ryoute ni kakaete iru mono toki no shizuku
Sotto nigirishimete wasureta kioku nakushita kotoba

Hitotsu hitotsu omoidaseba subete wakatte ita ki ga shite ita no ni
Iroaseta kotoba wa boku no sugu soba ni oite atta

Kotae no denai yoru to hitohira no nukumori to haruka kanata no akogare to
Tada sore dake wo kurikaeshi boku wa ikite iru

Kono ryoute ni kakaete iru mono toki no shizuku
Sotto nigirishimete wasureta kioku nakushita kotoba

Anata ga omou koto wo sameru koto naku temoto ni tsukamitai no ni
“Hito” dearu bokutachi wa sono kimochi wo wakachi aenai mama

Kotoba ga hanatsu imi wo tatoe no nai omoi wo kotaeru koto no nai kanjou wo
Mitsumeaeba tsutawaru koto ga dekitara ii no ni na

Kono ryoute ni kakaete iru mono toki no shizuku
Sotto nigirishimete wasureta kioku nakushita kotoba

Kono omoi wa mune ni shimatte okou

“Nakushite shimatta…”

English version nya: no regret life

I’m holding a drop of time in my hands
I quietly grip the forgotten memories, the lost words

When I recalled each event one by one, I thought I understood everything
But the faded words were right by my side

Nights when I can’t find an answer, and a single drop of warmth, and my longing for something far away
I’m spending my whole life just repeating those things over and over

I’m holding drops of time in my hands
I quietly grip the forgotten memories, the lost words

I want to grab all the things you love in my hand, never letting them cool down
While we, as people, are unable to share that feeling

The meaning your words release, an unquestionable love, a feeling that has no answers
If only we could convery all that just by looking at each other

I’m holding drops of time in my hands
I quietly grip the forgotten memories, the lost words

I’ll keep this love in my heart

I’ve lost you…”

maafkan saya ya Rabb ku…

Maafku (mungkin) (memang) belum sampai pada taraf penyesalan bagiMu

aku (sempat) meninggalkanMu

aku ikut terpejam saat mentari terbenam berganti purnama

meski kutahu, mentari terbenam bukan untuk diam

tapi ia berbagi sinarnya pada bulan, untuk malam,

…untuk menemaniku agar tetap bersamaMu.

 

Letih. Belum sampai pada titik kritis hingga peluh itu meneteskan hasil,

namun aku sudah terlelap, jauh menembus batas khayal dan realita jingga dunia ini.

 

Wahai jiwa yang penat akan dosa,

batinmu sungguh rapuh,

goncangan yang ampuh mungkin belum kau rasa

hingga pada akhirnya rela kau serahkan segalanya demi Dia.

Cinta kasihmu tak seberapa,

perjuanganmu tak ada beda dengan keluh kesahmu….

 

nyata, mimpi tak kan mungkin kau raih jika terus begitu.

 

Dunia ini kejam, memang.

Tapi akan lebih kejam jika kau bohongi diri untuk terus diam,

untuk terus terlelap,

untuk terus lupa,

lalu meninggalkan Dia.

 

Semu, batas putih dan hitam bukan lagi abu-abu.

Abu-abu bisa terasa begitu sempurna jika ia nampak sebagai batasnya

tapi, jutaan warna kini tertoreh di depan matamu sekalian

tak ada beda yang nyata.

Entah, sulit mungkin….

mana yang benar mana yang salah,

mana yang baik mana yang buruk.

 

Tapi, akankah kau tahu pada akhirnya…??

semua akan tampak nyata

saat kau kembali pada Nya,

pada malamNya yang begitu hening bening…

memberi ketenangan yang lebih pada batinmu,

dan cukup lah Dia sebagai penerang jalanmu.